Aku tak pernah benar-benar tau. Apa itu pengorbanan. Apakah yang aku lakukan sekarang ini, pantas disebut pengorbanan? Apakah mengorbankan keegoisan demi kebahagiaan orang lain, itu pengorbanan? Mungkin otakku masih terlalu dangkal untuk memaknai pengorbanan itu sendiri. Tapi sungguh, apapun itu pengorbanan, aku hanya melakukan yang hatiku suruh, yang aku mau.
Aku tak pernah tau, sebegitu mahal hargamu. Untuk orang yang mungkin kelak adalah jodohku (AAMIIIN!), hargamu sangat mahal. Berdrum-drum keegoisan aku kantongi di saku bajuku. Hanya demi kebaikanmu. Hanya demi tawamu. Dan bodohnya, hanya demi secuil senyummu. Aku harus rela kau sakiti, jika itu adalah harga yang harus kubayar untuk menjadikanmu jodohku. Aku harus rela menjalani hubungan yang belum direstui ini, jika memang itu adalah penghapus dinding yang menghalangi kita untuk dapat bersama seutuhnya. Aku harus ikhlas, menahan rindu akan waktu-waktu kita yang semakin tak ada.
Bukankah katanya cinta tak pernah lepas dari ujian? Ya. Dan ya Allah, betapa berat ujian yang kau berikan padaku hanya karna aku benar-benar menyayanginya. Bukankah hamba harus ikhlas ya Allah? Aku rela, Kau uji aku macam apa pun, aku tak akan menyerah dan berfikir bahwa aku dan dia berakhir. Aku ingin membuat-Mu malu akan usahaku untuk menjadikannya imam bagiku. Dengan keikhlasan, kerelaan, dan sesuatu yang menurutku adalah pengorbanan itu, izinkan hamba ya Allah. Izinkan aku untuk dijaga selamanya olehnya. Dengan halal. Izinkan aku untuk mengurusnya hingga dia mati. Izinkan aku untuk menjadi sahabatnya dan sahabat keluarganya, selamanya. Izinkan aku menghapuskan kepenatannya sehari-hari. Izinkan aku bahagia bersamanya. Izinkan aku menjadi istrinya ya Allah, jadikan ia jodohku. Aku tak akan meminta berikan aku yang terbaik. Karna Kau sependapat denganku, bukan? Aku hanya ingin dia. Sebagaimanapun dia, jika aku sangat menyayanginya, aku yakin, mimpiku akan terwujud. Bukan begitu, Allah?
Am I that ‘one person’? Who loves you like explained above?
Aku tak pernah tau apa yang bisa aku lakukan.
Tak pernah tau apa yang benar-benar kau mau.
Aku selalu ada, kapanpun kamu butuh.
Tapi jika kamu sedang tak butuh?
Kemana aku harus lari?
Aku siap sendiri.
Dan menjadi tempat sampahmu.
Aku siap dibodohi diriku sendiri.
Kali ini, aku akan selalu siap.
Jika sakit, kusimpan sakit ini sendiri, boleh?
Bolehkah jika kuadu semua pada Dia?
Yang mendengar jeritan hati yang tak terdengar siapa pun di muka bumi.
Aku, sudah belajar keteguhan hati.
Terima kasih. Kau telah membuatku semakin kuat :)